Dua Puluh Januari

20january

Duapuluh Januari duaribuenam, dini hari. Bermodal simcard bonus daftar jalan santai acara ultah sekolah aku telpon dia. Beberapa malam ini memang aku sering menelponnya. Kalau kebanyakan orang memang bilang telpon jam 1 malam itu sangat mengganggu, tapi buat dia, telpon dariku adalah hal yang ditunggu.

Siapa dia? Namanya Selly, salah satu adik kelasku di SMA. Berawal dari penerimaan siswa baru di SMA, cowok-cowok kelas dua dan tiga yang paling senang, saatnya curi perhatian cewek-cewek manis yang belum sadar akan ganasnya persaingan cinta di SMA. Awalnya aku ingin mendekati Ita, teman Selly, anaknya semok, sexy-montok. Tapi hal ini urung aku lakukan, aku tak berani karena dia adiknya seniorku sendiri.

Awal tahun ini aku masih dekat dengan seorang anak kelas dua, jadi aku masih belum terlalu buka mata sama anak-anak baru. Tapi lain kali aja aku critain.

Sekitar setengah tahun berjalan, bulan Januari sekolahku mengadakan kemping untuk kelas satu. Panitianya dari kelas dua, tapi aku sebagai senior panitia ikut membantu mereka. Aku sudah berada di camping-ground sejak sehari sebelumnya. Pagi itu rombongan peserta datang, ada yang dengan truk, ada yang naik mobil pribadi diantar orang tuanya. Aku masih diam di pos panitia, melihat mereka bongkar muatan. Lalu panitia menyuruh mereka untuk langsung menuju kapling-kapling yang sudah disiapkan panitia untuk mendirikan tenda.

Setelah seorang panitia memintaku untuk membantu peserta mendirikan tenda, akupun keluar dari pos panitia, mencari cewek-cewek manis. Setelah berkeliling di kapling cewek, rata-rata sudah ada panitia cowok kelas dua ataupun temanku kelas tiga yang membantu. Memang salahku ga bergerak dari tadi, siapa cepat dia dapat. Aku kemudian menuju kapling kelompoknya Ita, di situ yang membantu mendirikan tenda teman kelas 3, cewek, jadi sepertinya tidak akan ada perang curi perhatian. Hahaha

Aku pun membantu mereka dengan penuh canda tawa. Saat itu lah aku memutuskan mendekati salah satu dari mereka. Entah kenapa pilihanku jatuh ke Selly. Anak ini ga cantik, sama sekali ga eye-catching lah.. Tapi entah kenapa aku memilihnya.

Pos panitia memang letaknya lebih tinggi jadi sangat leluasa melihat ke seluruh kapling peserta. Apalagi kapling cewek letaknya lebih dekat dan tenda kelompoknya Selly ini di sisi paling dekat dengan pos panitia jadi dengan leluasa aku bisa curi-curi pandang ke tendanya.

Malam kedua, jadwalnya jalan malam, akupun diminta panitia untuk jaga di salah satu pos. Aku tidak tahu siapa saja yang dipilih untuk jalan malam ini, karena memang tidak semua peserta ikut jalan malam. Memilih peserta adalah urusan panitia. Satu persatu peserta yang datang ke posku aku kerjain, entah push-up, atau nyanyi, atau Pancasila, saat aku mulai bosan ngerjain mereka, datanglah si Selly ini. Wah, ternyata anak ini kepilih juga, diapain y…

Sekitar sepuluh langkah dariku aku suruh dia berhenti, lalu aku suruh tiap maju satu langkah sebutkan no hape orang yang dia hapal. Dari ayahnya, ibunya, kakak-kakaknya, teman-temannya, sampai tinggal satu langkah dariku dia tak juga menyebutkan no hapenya sendiri. Masa sih aku tanya langsung ke dia? Tapi dari pada ga dapet sama sekali, akhirnya aku tanya langsung di langkah yang terakhir, “sebutkan no hapemu sendiri.”

Dan dia jawab, “081……..”

Waduh, ga jelas sama sekali! Tapi masa aku tanya lagi? “Berapa tadi?” “0815…………”

Hmmm,,ga mungkin aku nanya lagi! “Ya udah sana. Lanjutin perjalan ini.”

Datang lagi anak di belakang Selly, aku udah ga mood lagi mo ngerjain, “sini kamu. kamu kenal yang di depan kamu tadi ga?” “Iya mas kenal,” wuih,,moodku naik lagi. “Kamu tahu no hapenya?” “Tahu mas, bentar saya ga hapal,” lalu dia mengeluarkan hape dari kantongnya.

“Loh, kamu kok bawa hape? kan udah dibilang dilarang bawa apapun saat jalan malam. Sini saya sita. Nanti habis apel pagi kamu minta sama saya.”

Anak yang datang setelah itu paling cuma aku suruh push-up, aku sendiri sibuk meriksa hape yang barusan aku sita, aku cari di phonebook urutan ‘S’ tidak ada nama selly di situ. Apa F? soalnya nama depannya Fitria. Tidak juga ternyata. Semakin penasaran, malah ada lagi anak yang datang, ga aku apa-apain lagi, langsung aku suruh lanjut aja, ada sesuatu yang lain yang lebih menarik minatku dari pada ngisengin adik-adik lucu ini. Aku mulai scanning dari ‘A’, scroll-scroll-scroll, sampai di huruf ‘J’ aku baca di situ ‘Jual-ly’. Aku tidak yakin, tapi setelah di ingat-ingat, salah satu temanku memang ada yang memanggilnya dengan sebutan itu. Aku tidak berpikir kalau ‘sell’ itu kan artinya ‘jual’. Saat itu aku hanya ingat bibirnya yang tebal sexy ala Angelina Jolie. Maka aku simpan no hape itu dengan nama ‘Joulie’.

Setelah itu aku sering misscall dia. Lucu sekali melihat ekspresinya yang tengok kanan kiri mencari siapa yang misscall. Dia sadar orangnya ada di dekatnya karena tepat setiap dia mau angkat langsung aku matikan. Tak hanya misscall, aku pun aktif tebar pesona, kirim salam lewat Ita, atau iseng lewat depan tendanya pura-pura ronda cuma untuk say hai.

Setelah camping itu aku mulai sms dia. Beberapa hari sms, beberapa hari sms, lalu mulai telpon. Telponnya ini dini hari, sekitar jam 1 malam. Ganggu banget kan? tapi ternyata dia tidak marah, bahkan senang mendapat telpon dariku walaupun mengganggu tidurnya. Setelah beberapa malam, tanggal 20 januari 2006, saat itu aku menginap di kontrakan teman, tempat kami biasa kumpul. Sebenarnya saat itu aku masih ingin menikmati serunya pedekate, walaupun aku sudah yakin pasti diterima kalau nembak dia. Tapi saat itu salah satu temanku, ada di dekatku saat aku menelponnya, terus memans-manasi agar aku menyatakan cinta saat itu juga. Aku bukan tipe yang dengan mudah bilang ‘i love u’, walaupun aku yakin diterima tetap saja kata-kata itu sangat sulit aku ucapkan.

Tetapi si teman ini terus mendesakku,

akhirnya dengan malu-malu,

akupun mengatakan i love u.

Pertama tak ada suara darinya,

setelah aku tanya apa tanggapannya,

 dia akhirnya buka suara, “lewat sms aj ya..”

Aku menunggu, dan menunggu, terus menunggu,

lalu datanglah yang ditunggu,

sebuah sms berisi ‘aku ga mau..’

Aku tak percaya dengan isi smsnya,

mana mungkin cintaku tak diterima?

Hatiku pun mulai terluka.

Lalu, walaupun tak kutunggu,

tiba-tiba hapeku menyanyikan sebuah lagu.

Ah, ini siapa?

mengganggu saja saat hati sedang terluka!

Ternyata satu lagi sms darinya.

Sebenarnya aku ragu,

ternyata yang tertulis disitu:

‘aku ga mau bohong kalau aku juga suka sama kamu…’

hatiku yang tadinya terluka,

tiba-tiba bahagia,

ternyata cintaku diterima ♥

—————————————————————————————————————————————-

duapuluh januari tujuh tahun yang lalu

aku ucapkan kata i love u

tak ada penyeselan

hanya sedikit kekecewaan

walaupun hari ini

kau tak lagi peduli

cerita ini kupersembahkan untukmu

seseorang yang selalu kurindu

karena kenangan

tak selalu untuk dilupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s