Perjalanan Pertamaku

klo ngomongin perjalanan, ga akan pernah lepas sama perjalanan naik gunung pertamaku. Iya, gunung pertama yang membuat aku jatuh cinta, tidak hanya pada pemandangannya, bukan cuma pada perjalanannya, tapi juga pada seorang gadis yang ikut menapaki tanjakan cinta ♥

Saat itu aku masih kelas dua SMA, masa-masa di mana diri merasa paling benar sendiri, kalau ternyata salah lebih baik melarikan diri. Saat itu aku tergabung dalam kelompok pramuka. Kelompok yang merasa eksklusif menurutku –well, secara struktur memang berdiri sendiri. setingkatlah sama osis– saat angkatanku yang menjabat pengurus, banyak alumni yang begitu sering datang ke sekolah dan menghabiskan malam di sekolah. Bahkan kalau dihitung-hitung, aku sendiri dalam seminggu lebih banyak di sekolah dari di rumah. Berangkat Kamis pagi dari rumah, menginap di sekolah, trus pulangnya sampai rumah lagi senin sore.

Suatu waktu, kakak-kakak alumni mengajak kami naik gunung. Beberapa kamipun setuju. Setelah beberapa hari persiapan, kami bersembilan pun berangkat. Aku, mochenk, cui, atika, indul, septi,  mas anung, mas alim dan mas rama, 5 orang cowok dan 4 orang cewek. Aku dan cewek-cewek baru pertama kali naik gunung, kami bener-bener excited awalnya –walaupun akhirnya hanya aku tidak kapok naik gunung–

Setelah berkumpul di sekolah, kami pun berangkat, dengan angkutan umum tentu saja. Sedangkan mas anung menyusul sendiri dengan motor. Sampai di kaki merbabu, di desa Kepil, kami mulai jalan kaki. Aku lupa jam berapa mulai jalan, tapi sudah siang saat itu. Perjalanan naik sampai di pos satu –rumah di sekitar garis batas perkampungan dan hutan– cukup lama, maklum, lebih dari setengah rombongan masih pemula dan satu orang lagi sambil menuntun motornya. Jalan berupa jalan batu yang susah dilalui dengan motor.

mas anung dan motornya

           mas anung dan motornya

Ini bukan gambar waktu pendakian pertama, foto-foto pendakian itu entah di mana. Aku lupa pake kamera siapa waktu itu, tapi ini mas anung dan motor yang sama. Ini masih di bawah, jalan masih aspal dan belum begitu menanjak.

Kami harus menyusuri jalan ini untuk sampai di pos satu, di ujung jalan, batas pemukiman penduduk dan hutan. Di tanjakan ini lah benih suka mulai tertanam ♥

desa kepil - kaki merbabu

desa kepil – kaki merbabu

Kami –atau cuma aku– benar-benar menikmati perjalanan. Bercanda, tertawa, dan dari situ aku mulai dekat dengan cui. Bahkan barang kenangan waktu itu masih aku simpan sampai sekarang. Hanya selembar daun cemara kering bagi orang lain, tapi bagi kami –sekarang cuma aku, mungkin– itu,,, hmm…spesial lah pokoknya…

Sampai pos satu sudah hampir magrib, namanya juga menikmati perjalanan ;p

Setelah istirahat, makan, dan sholat magrib lalu isya, kamipun berangkat. Formasi perjalanan waktu itu seharusnya cowok-cewek-cowok-cewek-dst. Pokoknya 1 orang cowok mengikuti dan bertanggung jawab membantu perjalanan 1 cewek. Aku tentu saja berpasangan dengan cui, mas rama dengan atika, dan ga tau gimana, indul dan septi bisa dua-duanya ikut mas alim.

Perjalanan panjang tapi menyenangkan. Sampai di pos dua, biasanya tempat nge-camp, sudah lewat tengah malam. Kami berhenti, istirahat, masak, tapi tidak mendirikan tenda. Aku lupa waktu itu kami bawa tenda atau tidak, tapi sepertinya sih tidak –nekat banget kalo ini, jangan ditiru!!– Setelah makan, rencananya kami istirahat sebentar saja lalu summit attack untuk melihat sunrise. Tapi ternyata kami ketiduran, dan baru lanjut sekitar hampir subuh.

Di sini ada kejadian lucu, jadi saat itu mas anung jadi leader di depan. Aku di barisan belakang, dia berteriak “awas ada lubang.” Lalu tiba-tiba menyusul teriakan “aaaaaaakk”. Kami yang dibelakang kaget, takut ada apa-apa, tapi lalu terdengar suara tertawa dari depan. ternyata tadi suara atika yang nyungsep masuk ke lubang😀 Lebar lubang pas dengan badannya, untungnya tangannya nyangkut di mulut lubang, jadi masih bisa di tolong diangkat ditarik tangannya. Lubang itu dalam, karena menurut pengakuannya, saat itu kakinya masih belum menyentuh dasar lubang.

Sampai di pertigaan –merbabu punya 3 puncak, ini di pertigaan antara puncak menara dan puncak yang lain– matahari sudah cukup tinggi, kami semua berhenti di sini. Sebenarnya aku dan cui masih sangat ingin ke puncak sebenarnya, dan mas-mas alumni pun sudah menawarkan untuk mengantar kami, tapi melihat anak-anak yang lain sepertinya sudah malas untuk beranjak lagi, kamipun mengurungkan niat. Cukup lama kami di sini, bahkan mas alim sempat tidur di sini.

Image011 Ini pemandangan di pertigaan. Ini bukan foto waktu itu sih, tapi pemandangannya  sama kok ;p

Setelah puas menikmati pemandangan bukan puncak, kami pun turun gunung. Mungkin karena ketidakpuasanku waktu itulah aku bertekad untuk kembali lagi kesini dan harus sampai puncak!!

 

-au-

4 comments on “Perjalanan Pertamaku

  1. Atika Widya says:

    aku ga sama mas rama, auu.. aku sama mas anung waktu itu.. mas rama sama indul..

  2. johanesjonaz says:

    pengalaman seru! ayo jalan lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s